KARENA CINTA YANG PERSATUKAN
Oleh Candra G. Pratiwi

Pada akhirnya
Apakah semua orang akan menikah dengan pujaan hatinya?
Coba tanyakan pada kakek, nenek, bapak atau ibumu
Tidak semuanya
Mereka lebih merelakan dirinya untuk orang yang mencintainya
Dengan begitu hidupnya mungkin akan lebih damai
Walaupun mungkin dengan keterpaksaan
Mereka rela membohongi dirinya sendiri
Tetapi seiring dengan berjalannya waktu,
Mereka dapat membiasakan diri
Membiasakan untuk mencintai
Membiasakan untuk menyayangi
Membiasakan untuk mengasihi
Dan itu semua lebih indah dari segalanya

JANJI HATI
Oleh Achrom Japoera crbn

Desir angin perlahan menerpa
Ada dingin mengecup pipi
Ada dingin menyentuh hati
Diam tanpa kata mengurai aksara

Ada hening hati bercerita
Bertutur dalam sepi malam
Meluruhkan endapan lumpur jiwa
Membersihkan luka tanpa perih

Karna ada sentuhan nan lembut
Membuang kabut jelaga kalbu
Tanpa harus menoreh tanda hitam
Tlah kubentangkan kanvas langit

Hingga membatas cakrawala
Agar dapat kaulukiskan
Segala sketsa kecamuk dirimu
Agar dapat kau curahkan
segala perspektif bentuk rasa...

Agar dapat kau tuangkan citramu
Menghablur segala rona warna
Bertuturlah tentang berjuta cerita
Yang selama ini terpendam di dalam gunung api hatimu...

Jangan biarkan panasnya
Menggelegak bersama magma...
Kan kudengarkan dengan setia
Semua kisah tentang hidupmu

Karna aku tlah berjanji
Tuk memenuhi janji hati
Tuk merawat luka hatimu
Karna prasasti cinta tlah terkhianati 

NUANSA DIBALIK JILBAB
Oleh Satya Zulfiqar Ipnu

Semilir angin menyatu dalam ujung kain kesucian
Melambai-lambai menandakan takut terbawa terbang
Dibalik sulaman terpampang wajah nan rupawan
Wajah yang tercipta akibat Adam kesepian

Aku tertunduk tak sanggup lama menatapnya
Bukan karena aku tak suka padanya
Bukan pula karena aku tak menghargai kehadirannya

Tapi karena aku takut menodai kecantikan yang Tuhan berikan padanya
Aku tak ingin merendahkan mu di hadapan Tuhan ku
Sekedarnya aku memanjakan mataku
Tanpa harus mengingkari kekaguman ku atas dirimu

Sesampainya sang waktu menjadi saksi janji suci
Janji antara aku dan kamu menunaikan perintah Tuhan ku dan Tuhan mu
Itulah saatnya melanjutkan kisah cinta terciptanya adam dan hawa
Melanjutkan skenario terciptanya alam semesta

Aku harap kau tak terhinakan didunia
Supaya kelak kau termuliakan di surga
Dimana wajah rupawan dan akhlak mulia menjadi penghuninya
Dan kita bertemu kedua kalinya dalam suasana yang sempurna
SENJA MERINDU
Oleh Rainy Zikri

Rona senja telah menjingga
Membias melembut diujung langit
Rinai hujan yang tersisa
Sejukkan jiwa basuh segala asa

Oh angin senja terbangkan rasa rindu ku
Lagukan symphoni rindu dalam indah mimpinya

Ku luruhkan rinai rinduku tuk mu yang merindu
Hadirkan rindu ini dalam setiap mimpinya

Disaat ku rindukan mu
Keindahan yang tercipta
Penuhi relung relung ku

Bayangkan gelak tawa mu yang ceria
Lukiskan indah mata mu yang berbinar
Damaikan risau jiwaku yang mengingat mu

Saat kau pun rindukan ku.....

KAU LULUHKAN HATIKU DENGAN JILBABMU
Oleh Satya Zulfiqar Ipnu

Malam semakin larut...
Mata pun tak dapat terpejam..
Lentera kecil menemani ku..
Disudut ruang penuh kesepian..

Ku sandarkan ujung hari ku disini..
Di antara retakan sutera penghangat kalbu..
Nafas panjang melepas beban pikiran ku..
Sekilas hadir bayanganmu di sampingku..

Ingin ku sapa lembut dengan salam ku..
Kupeluk erat dengan do'a ku..
kumanjakan kamu dengan nada-nada dzikir ku..
Sebagai tanda betapa aku menyayangimu..

Kau sentuh hatiku dengan ujung jilbabmu..
Hadirmu mu mengobati dahaga rindu ku..
Bersemi bahagia yang telah lama terkubur rasa duka..
Berguguran segala kesedihan di yang telah ada..

Rasa ini bagai air yang mengalir menuju muaranya..
Dimana aku dan kamu terseret arus yang sama..
Disana kita bersatu walau berasal dari tempat yang beda..
Memberi warna pada telaga bersemi cinta..

Usahlah berfikir jari manismu melingkar cincin dari aku atau tidak..
Yakinlah rasa sayangku melingkar erat di hati dan ragamu..
Sepanjang goresan tinta tak akan mampu memujamu..
Hamparan samudera tak akan sanggup menampung cinta dan sayangku padamu...
KUCINTAI KAU DENGAN SUNAHKU
Oleh Satya Zulfiqar Ipnu

Awan mendung meyapa malamku
Dikala hati sedang merindu parasmu
Paras elok berbalut kain pelindungmu
Melindungi syahwat dari nafsu celaka

Paras yang sepanjang waktu aku tunggu
Paras yang selalu membuat aku tak sanggup menatapnya berlama-lama
Bukan aku tak bisa,aku hanya tak sanggup merendahkannya
Merendahkan paras mulia dengan mata penuh dosa

Kau tercipta dari tulang paling dekat dengan hatiku
Tempatmu sungguh mulia lagi jauh dari noda dunia
Jangan kau berkecil hati karenanya
Lebih baik kau malu didunia,daripada malu dihadapan-NYA

Sampai saat nanti tiba waktunya
Waktu aku ucapkan kata didepan saksi dan penghulu
Saat itu pula kau halal bagiku
Halal dalam segala sunah dan wajib ku

Biarlah sekarang aku hanya merindu
Merindu sosok istimewa dari Tuhanku untukku
Tugasku menjagamu dalam setiap langkahku
Melindungimu dalam setiap cobaan gelora jiwa mudamu

LUKISAN KHAYALAN
Oleh Anwar Fauzi

Ketika kugoreskan pensil diatas kertas putih,
kulukiskan indahnya wajahmu,
sambil kuputar lagu bertemakan cinta ,
membuat suasana romantis tercipta,

Kamarku yang sempit berantakan,
seolah menjadi restoran berkelas,
cahaya lampu yang terang ,
berubah menjadi 1 lilin ditengah meja makan,

Lukisan wajahmu kubayangkan adalah dirimu,
seakan kita sedang duduk berhadapan dalam 1 meja,
aku menatap indahnya wajahmu,
dan kamu menatap kebawah karena tesipu malu,

Aku dan kamu gugup untuk memulai obrolan,
sehingga suasana menjadi hening tanpa suara,
hanya ada alunan musik yang merdu,
inilah khayalan saat aku melukis indahnya wajahmu,

UNTUK SANG KEKASIH
Oleh Untuk Sang Kekasih

Aku mencintaimu kekasih...
Tapi tak sepenuh jiwa dan ragaku....
Kestianku takkan kuberikan padamu untuk saat ini...
Tidak untuk hubungan yang tak tertulis di kitab langit ini...

Jika kau benar ingin aku dan kau menyatu...
Bersujudlah,merataplah,berharaplah,agar kita bisa bersatu dalam ikatan suci...
Berbagi duka...
Berbagi suka..
Berbagi mimpi...
Berbagi harapan...

Tidak kasih....
Aku tak ragu akan kehendak jiwamu padaku...
Aku hanya ingin berbagi jiwa dan raga,pada siapa kelak yang akan menandatangani surat perjanjian dari surga...
Agar bisa terus bersama,menapaki tangga kehidupan didunia...

Berharaplah itu kau aku......
 "CEPETAN NIKAH PUTRAKU"


Contoh Teks Drama Singkat Lucu - Teks Drama Singkat

Marlan : Marhan (Ayah)
Desi : Ani (Ibu)
Cahyono : Candra (putra Marhan dan Ani)

Candra : Ibu kenapa terlihat murung gitu Bu?

Ibu : Ibu pusing mikirin kamu, umur udah seusia gunung berapi tapi masih saja ogah menikah.

Ayah : Iya kamu tu nak, heran Bapak kenapa sih kamu nggak pengen-pengennya menikah padahal kata ibu tadi usia kamu udah seumuran gunung berantai.

Ibu : Gunung Berapi Pak Ayah : Oh.. iya, itu maksud Bapak, gungung berapi.

Candra : Owww.. berarti gungung berapi itu semuanya usianya sekitar 30-an tahun ya Bu/Pak? Berarti gunung-gunung berapi itu juga semuanya masih pada jomblo?

 Ibu : Ibu kurang tahu sih, tapi ngapain juga Ibu mikirin gunung, maunya Ibu yang penting putra Ibu lekas menikah.

Ayah : Iya, bener kata Ibu kamu. Kita nggak mau tahu soal gunung berantai. Yang penting putra tercinta Bapak segera mendapatkan pasangan.

Candra : Yaaa Ayah, berapa kali harus dibilangin?!

Ayah : Ya makanya kamu segera menikah biar nggak banyak yang perlu kamu bilangin ke Bapak.

Candra : Maksud aku bukan itu Pak. Itu tu.. Ayah : Itu apaan?

Candra : Gungung berapi, bukan gunung berantai.

Ayah : Oh.. iya, maksud Bapak gunung berapi.

Ibu : Eh.. sudah sudah.. Can, kamu cepetan cari isitri ya? Nggak baik lo kalau terus sendirian, lagian Ibu kan pengen punya momongan.

Candra : Kan Ibu udah punya aku, ngapain masih mikirin momongan lagi?

Ibu : Maksud Ibu itu, Ibu pengen punya cucu gitu.

Candra : Yang lucu plus imut gitu ya Bu?

Ibu : Iya. Yang imut, lucu dan suka makan sambal.

Ayah : Ah .. Ibu ini, masak pengen cucu aja harus yang doyan ama sambal.

Ibu : Terus kalau Bapak maunya yang bagaimana?

Ayah : Ya yang tinggi gitu dong biar kelihatan perkasa!

Candra : Tinggi Pak, emang setinggi apa?

Ayah : Setinggi tiang listrik Can

Candra : Oh.. gitu ya Pak, ya udah deh mulai sekarang Candra akan mencari pasangan untuk saya jadikan istri, dan segera memberikan momongan buat Ibu dan Ayah, yang lucu, imut, doyan sambal, dan tinggi kayak tiang listrik.
Naskah Drama anak sekolah (Anak kuper , tidak selalu buruk)

Terdapat sebuah genk disalah satu sekolah swasta yang terletak tidak jauh dari areal persawahan. Mereka tergolong cukup familiar disekolahnya. Anggota genk tersebut selalu mementingkan gaya daripada pendidikannya. Ketika sudah terlanjur  menjadi anggota genk ini, yang bersangkutan dilarang untuk bermain dengan teman lain yang bukan bagian dari mereka. Kala itu hari masih pagi, Grenny merupakan salah seorang dari anggota mereka tiba-tiba datang dengan raut wajah yang penuh kekesalan.

Dialog Drama

Grenny            : “Fuhhh. . . !! Tugas apa’an sih ini?
                     gila! Banyak benget! Mana susah lagi!
                     Eh Ardita, lu udah belom tugas bahasa nya?”
                     (sambil menjatuhkan buku yang dibawanya)

Ardita             : “Ha? Tugas apa ren?
                    (Bingung)

Grenny            : “Aduh Ardita...! Lola banget sih!
                    Ini nih, tugas bahasa yang kemarin! Emang lu nggak tau?”

Lalu Dian dan Casandra menghampiri Grenny yang sedang marah-marah.

Dian            : “Hey..hey..hey..
                     Ada apa sih rebut-ribut? Nyantai dong..

Casandra         : “Nggak taut tuh...
                     Masih pagi tau! Jangan bikin ribut napah?

Grenny            : “Ini nih, ada tugas bahasa. Masalahnya gue nggak ngerti.
                     Apalagi harus dikumpulin sekarang. Ah..pusing!”.

Casandra         : “Halah..nyante aja kali.
                     Tugas begini masa lu nggak bisa?”

Dian            : “Ih...masih pagi begini udah mikirin tugas.
                     Mending kita ke kantin deh, Yuk...!”
                     (Mengajak Grenny dan Casandra ke kantin)

Ketika sedang berjalan menuju kantin sekolah, Casandra, Grenny dan Dian bertemu dengan Nencia yang nampaknya baru datang. Nencia adalah anak yang selalu menjadi ejekan karena dianggap berpenampilan payah dan tidak punya fashion. Padahal, Nencia adalah anak yang lebih mementingkan pendidikan daripada penampilan atau fashion.

Grenny            : “Eh, liat tuh.. siapa yang dateng?? Hahaha”.

Dian dan Casandra : “Hahahaha...”(Ikut menertawakan Nencia)

Casandra         : “Ah udah yuk ke kantin.!”

Sementara mereka ke kantin, Ardita yang nampaknya masih bingung dengan tugas tersebut, menyempatkan diri untuk bertanya kepada Nencia.

Ardita             : “Pagi Nenci..! kamu tugas bahasanya sudah belum?”.

Nencia       : “Sudah kok, Ardita.”

Ardita             : “Ehm...boleh nanya nggak?”
Nencia       : “Boleh kok..”
                     (sambil tersenyum)

Tidak sempat bertanya, Grenny, Dian serta Casandra datang. Mereka tidak suka Ardita mendekati anak nggak punya fashion itu.

Dian            : “Ohh.. Ardita!

Casandra         : “Berani ya kamu deket-deket sama anak ini?”.

Grenny            : “Inget dit, anak ini cupu. Ih...!?”

Ardita             : “Yah, kan aku cuman mau tanya tugas ke Nenci.
                        Kok kalian jadi marah-marah sih?”

Casandra         : “Tugas yang mana sih say? Yang ini?
                     (sambil membaca buku yang di meja)

Ardita             : “Iya. Memang kamu bisa san?”

Casandra         : “Ehmm..., kalau cuman begini ya gampang lah dit!”

Ardita             : “Kamu bisa?? Coba kamu baca halaman 5.”

Casandra         : “Ehm..., ya gitu deh...
                       Ehm..., gimana ya? Gimana sih dit? hehe”.
                     (Bingung dan ragu-ragu)

Grenny            : “Yah, kirain lu bisa san!”

Dian            : Bodoh amat lah!

Yauda mending gue pindah duduk di belakang daripada sebangku sama penghianat!”
(Menyindir Ardita)

          Waktu pelajaran sudah berlalu. Hingga tiba jam istirahat.

Dian            : “San, ngga ada salahnya ya kalau kita temenan sama Nenci.
                     Biarpun kuper, Nenci itu pinter lho san!

Casandra         : “Ih..., ogah ah gue temenan sama anak kuper.
                     Pinter mana sama gue?”

Grenny            : “Ih gila. Lu ngremehin banget.

                     Gak tau ah. Lama-lama lu nyebelin.
                     Mending gue temenan sama Nenci ketimbang sama loe.”
                     (Berjalan mendekati Ardita dan Nenci yang sedang ngobrol)

Casandra         : “Yaudah sana! Gue gak butuh temen kaya lo! Gak penting.”

Dian            : “San, kayaknya bener apa kata Grenny.
Ya, kalau lu tetep kaya gini mending gue gabung sama mereka. Maaf , San.”
(Berjalan menyusul Grenny)

Casandra         : “Oke! Minggir sana Lo! Gue gak butuh kalian!”
          Tiba saatnya hasil UAS dibagikan. Teman-teman Casandra nampak senang dengan nilai tugas mereka yang memuaskan. Sementara Casandra, terlihat murung karena nilainya pas-pasan.

Grenny            : “Yey...nilai gue 9!”

Dian            : “Haha iya sama nilai gue juga sembilan!
                     Makasih Nenci, berkat kamu ini Len!”

Ardita             : “Wah, iya Nenci hebat. Lihat nih len, nilaimu paling tinggi!”

Nencia       : “Aku ikut seneng deh kalau nilai kalian bagus.
                     Oya, kira-kira nilai Casandra berapa ya?”
Ardita             : “Iya ya.. Coba kita samperin yuk!”
                     (Berdiri sambil menengok kea rah Casandra)

Grenny dann Dian     : “Iya yuk..”
          Mereka datang menghampiri Casandra yang nampaknya sedang murung.

Ardita             : “Hey Casandra, pasti nilai kamu bagus deh.”
                     (tersenyum ramah)

Casandra         : “Apa? Ngapain kalian kesini? Penting nggak sih?”

Nenci           : “Yah., kan kita cuman pengen tau nilaimu San.”

Dian            : “Iya Casandra, maksud kita kesini itu baik.
                     Kok kamu ngomongnya gitu sih?”
                     (kecewa)

Grenny            : “Sudahlah, percuma juga kita kesini.
                      Casandra sudah nggak butuh siapa-siapa disini.”
                     Yaudah yuk, kita ke kantin aja.
(kecewa)

Dian            : “Iya yuk.. Sudah laper nih!”
                   (melirik ke arah Casandra yang masih terlihat acuh)
Ardita dan Nenci       : “Okelah..”
       
Kemudian mereka ke kantin, karena kecewa dengan perkataan Casandra yang angkuh. Tapi baru berjalan dua langkah, Casandra memanggil mereka.
Casandra         : “Tunggu..!!”
                   (menyesal)

Nenci,Dian,Ardita,Grenny      : “Iya ada apa san?”
                                        (menengok sambil menjawab bersahut-sahutan)

Casandra         : “Ehm.. maaf ya?”

Ardita             : “Maaf kenapa Casandra?”

Casandra         : “Ya,, pokonya maaf.”
                     (Menyesal)

Dian            : “Iya Casandra. Kita maafin kok kalau kamu sudah minta maaf.”

Grenny            : “Nggak papa kali San. tapi asal kamu tau, Nenci nggak seburuk yang kita kira. B uktinya dia mau bantu kita belajar.”

Casandra         : “Iya aku tau. Mungkin aku cuman sirik sama Nenci.
                     Yah, aku sadar deh, tanpa kalian aku bukan apa-apa.
                     Maafin aku ya sahabat-sahabat ku. Kita masih sahabat kan

Nenci, maafin aku ya?”

Nenci           : “Nggak papa kok Casandra. Lagipula aku juga nggak mau musuhin kamu”.

Dian            : “Iya Casandra, kita masih sahabat kok. Senyum dong?”

Casandra         : “Wah, ternyata kalian masih mau temenan sama aku. Padahal aku sudah egois.

Aku nyesel sudah musuhin Nenci.”

Grenny, Ardita     : “Iya Casandra, kita juga minta maaf ya? Soalnya kita sudah diemin kamu,San”
          (bersahut-sahutan)

Casandra         : “Makasih..kalian memang sahabatku.”

Dian            : “Iya Casandra, aku juga ya San.”

Nenci           : “Akhirnya..kita jadi temenan deh. Hehe”

Grenny            : “Sudah-sudah.. jadi ke kantin gak nih? Laper tau!”
                     (menggoda teman-temannya)

Dian,Ardita, Nenci, Casandra : ”Heeeeee..”

Lantas, mereka tidak lagi memusuhi Nenci.Mereka sadar bahwa pendidikan itu jauh lebih penting katimbang terlalu banyak memikirakan soal gaya. Dan yang lebih penting lagi, manusia tidak bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang lain sebagai makhluk sosial. Kini mereka menjadi teman dan melupakan kesalahan-kesalahan yang sudah usai.

Drama Sekolah > Selesai

Demikian artikel contoh naskah drama singkat yang diharapkan berguna buat Anda yang sedang membutuhkannya.

MASALAH LINGKUNGAN HIDUP BAGI MANUSIA
Masalah lingkungan semakin lama semakin besar, meluas, dan serius. Ibarat bola salju yang menggelinding, semakin lama semakin besar. Persoalannya bukan hanya bersifat lokal atau translokal, tetapi regional, nasional, trans-nasional, dan global. Dampak-dampak yang terjadi terhadap lingkungan tidak hanya berkait pada satu atau dua segi saja, tetapi kait mengait sesuai dengan sifat lingkungan yang memiliki multi mata rantai relasi yang saling mempengaruhi secara subsistem. Apabila satu aspek dari lingkungan terkena masalah, maka berbagai aspek lainnya akan mengalami dampak atau akibat pula.
Pada mulanya masalah lingkungan hidup merupakan masalah alami, yakni peristiwa-peristiwa yang terjadi sebagai bagian dari proses natural. Proses natural ini terjadi tanpa menimbulkan akibat yang berarti bagi tata lingkungan itu sendiri dan dapat pulih kemudian secara alami (homeostasi).
Akan tetapi, sekarang masalah lingkungan tidak lagi dapat dikatakan sebagai masalah yang semata-mata bersifat alami, karena manusia memberikan faktor penyebab yang sangat signifikan secara variabel bagi peristiwa-peristiwa lingkungan. Tidak bisa disangkal bahwa masalah-masalah lingkungan yang lahir dan berkembang karena faktor manusia jauh lebih besar dan rumit (complicated) dibandingkan dengan faktor alam itu sendiri. Manusia dengan berbagai dimensinya, terutama dengan faktor mobilitas pertumbuhannya, akal pikiran dengan segala perkembangan aspek-aspek kebudayaannya, dan begitu juga dengan faktor proses masa atau zaman yang mengubah karakter dan pandangan manusia, merupakan faktor yang lebih tepat dikaitkan kepada masalah-masalah lingkungan hidup.
Oleh karena itu, persoalan-persoalan lingkunganm seperti krusakan sumber-daya alam, penyusutan cadangan-cadangan hutan, musnahnya berbagai spesies hayati, erosi, banjir, bahkan jenis-jenis penyakit yang berkembang terakhir ini, diyakini merupakan gejala-gejala negatif yang secara dominan bersumber dari faktor manusia itu sendiri. jadi, beralasan jika dikatakan, di mana ada masalah lingkungan maka di situ ada manusia.
Terhadap masalah-masalah lingkungan seperti pencemaran, banjir, tanah longsor, gaga! panen karena harna, kekeringan, punahnya berbagai spesies binatang langka, lahan menjadi tandus, gajah dan harimau mengganggu perkampungan penduduk, dan lain-lainnya, dalam rangka sistem pencegahan (preventive) dan penanggulangan (repressive) yang dilakukan untuk itu, tidak akan efektif jika hanya ditangani dengan paradigma fisik, ilmu pengetahuan dan teknologi, atau ekonomi. Tetapi karena faktor tadi, paradigma solusinya harus pula melibatkan semua aspek humanistis. Maka dalam hal ini, peran ilmu-ilrnu humaniora seperti sosiologi, antropologi, psikologi, hukum, kesehatan, religi, etologi, dan sebagainya sangat strategis dalam pendekatan persoalan lingkungan hidup.
Pustaka : Hukum lingkungan dan ekologi pembangunan Oleh Nommy Horas Thombang Siahaan,Indonesia